Di awal-awal kehidupan kalian ... Dimana jalan yang akan ditempuh, insya allah masih panjang ... Jangan pernah lupa untuk sesekali menengok ke belakang, kenangan-kenangan yang nantinya menjadi bekal untukmu melangkah di masa datang ...

 
Monday, July 31, 2006
Aku sayang padamuuu
 

Judul diatas bukan judul lagu tahun 80-an. Tapi kebiasaan baru Reyhan. Jagoan kecil ini memang selalu punya kejutan – kejutan kecil buat Mamah. Duluuuuu … (UH …kesannya kok jadul amat, padahal yang dimaksud baru setahun yang lalu, waktu Reyhan usia 2,5 tahun) … Rey punya kebiasaan tiba-tiba (tak ada angin tak ada hujan) mengucapkan kalimat ‘’Mamah … Mamah . . . Aku tayang (=sayang) Mamah’’ padahal waktu itu kami sedang tenggelam dalam keasyikan bermain atau kala menonton film kartun, atau sedang memakai baju setelah Rey mandi.
Ketika tiba-tiba, Rey mengucapkan kalimat itu, tanpa pernah diajari atau diarahkan sebelumnya, Mamah kaget, terharu, tersanjung …hiks… hiks. Apalagi kadang-kadang dapat tambahan bonus … cipiki – cipika. Entah dari mana Rey meng-adopsi kalimat tersebut. Kalimat itu jadi spesial, karena di keluarga besar kami, baik dari pihak Mamah maupun Papah, bukan keluarga yang biasa saling mengucapkan kalimat-kalimat seperti itu. Bahkan Papah dan Mamah pun sendiri juga bukan orang yang suka mengumbar kalimat-kalimat tersebut satu sama lain. Apa karena kami sama-sama orang teknik jadi “rayuan-rayuan” model begitu bukan jadi prioritas pengungkapan isi hati ????
Tapi toh … Mamah ter-mehek-mehek juga jika Reyhan sudah mengeluarkan kalimat tersebut. Apalagi kalau trus Mamah tanggapi :

Reyhan : Mamah … Mamah … aku sayang Mamah.
Mamah (kaget+terharu): Oh … Mamah juga sayang Reyhan. Trus Reyhan sayang siapa lagi ?
Reyhan: Aku sayang Mamah.
Mamah: Sayang Papah juga kan?
Reyhan: Nggak, Aku sayang Mamah aja.
Mamah: Sayang Teteh Illa ?
Reyhan: NGGAK. Aku sayang Mamah aja …(Waktu itu Zahra belum lahir).

Hi .. hi .. hi .. Akhirnya dengan bangga Mamah cerita per telpon sama Papah. Klo blio nggak ada dalam daftar-nya Reyhan. :-)
Lumayan lama juga kebiasaan “nembak” ini Reyhan lakoni. Tapi perlahan-lahan, kebiasaan itu juga hilang dengan sendirinya. Segala sesuatu yang menjadi rutinitas selalu menjadi tidak istimewa lagi. Mungkin oleh sebab itu Reyhan melakukan Jeda.

Tapi 2 bulan kemaren, tiba-tiba saja kalimat tersebut muncul lagi.
Reyhan: Mamah …. Aku sayaaang padamuuu (Trus dia berlari menghampiri dan memeluk Mamah)

Hhhmmmm …. Rasa di hati ini … tak ada kata-kata yang dapat melukiskannya …
posted by Amalia @ 8:55 AM   2 comments

Daisypath Ticker

Friday, July 21, 2006
Step by Step
 

Asyiiikk... tadi malam Zahra mulai merangkak. Untungnya masih di atas kasur. Merangkak bertopang pada kedua tangan dan kaki (lutut). Perut sudah nggak "nyapu" kasur lagi. Step by Step ... Bleeep .. Ngusruk lagi ke kasur mukanya. Step by Step ... Bleep ... Ngusruk lagi.

Tapi semangatnya tetap semangat '06 (tahun ini kan tahun 2006 bukan 1945 lagi). Dicoba teruuuuusss ...

Hayuuuuu

note: takut diplotes kayak Nadine. Jadi tutup pake anduk yaa ... Bial nggak keliatan
posted by Amalia @ 8:53 AM   4 comments

Daisypath Ticker

Kotor itu Baik
 
Slogan itu sekarang sedang diusung oleh sebuah merk detergen terkenal. Tentu saja tujuannya adalah target penjualan yang bagyuuus (pake gayanya indy Barends … klo lagi di ceriwis dengan 2 jempol ngacung ke atas) dengan meyakinkan para calon customernya bahwa menggunakan detergen tersebut bakal bisa menghilangkan noda-noda dari pakaian, sehingga para calon customer tidak perlu melarang anak-anaknya untuk ber-kotor-ria. Jadi kreatifitas si Anak tidak perlu di-pasung dengan larangan jangan bermain kotor (dalam arti yang sebenarnya yaaa).

Sekarang Mamah sedang men-doktrin Reyhan bahwa bermain kotor itu boleh, asaaal sesudahnya cuci tangan dan kaki. (kok postingan yang ini banyak mengandung pesan sponsor yaaa … salah satu merk sabun mandi kan lagi mengkampanyekan gerakan mencuci tangan ???). Kenapa Reyhan harus di-doktrin untuk ‘bermain kotor’??

SEJARAHNYA :

Papah & Mamah termasuk yang overprotektif sama anak-anak (*ngaku.com*). Rada-rada phobi kalau anak-anak tangan & kakinya kotor. Jadi kotor sedikit, langsung suruh dicuci. Termasuk juga sama yang ngasuh di rumah. Di-doktrin habis-habisan bahwa anak-anak (dari zaman Naila batita dulu, terus Reyhan dan sekarang Zahra) harus dijaga kebersihan badan dan pakaiannya. Jadi begitu anak-anak belepotan tangannya, langsung dicuci, bajunya langsung diganti, mukanya dilap. (Nurut juga yang ngasuh di rumah, mungkin takuuuu…t sama Mamah, dikasih tampang jutek, klo mereka nggak nurut. Padahal yang empunya tampang nggak pernah merasa punya tampang jutek *wajahpolostanpadosa.com*).

Anak-anak juga jarang dikasih ijin untuk bermain yang kotor. Reyhan bergulingan di lantai teras depan, langsung deh teriak “Reyhaaan, jangan tiduran di lantai. Nanti kotor”.
Sore-sore, pulang kantor, ngelihat Reyhan lagi duduk di tanggul selokan depan rumah, langsung komentar :” Iiihh … kok duduk disitu, lihat celananya jadi kotor kan? Tuuh tangannya juga. Ayo cuci tangan !!!”. Padahal selokan depan rumah biasanya kering (kecuali di musim hujan tentunya).

KENYATAANNYA:

Mamah baru sadar, tahun kemarin, sewaktu Reyhan masuk Playgroup. Dari laporan bu Erni, Mamah baru tahu. Kalau dalam kegiatan menempel, awalnya Rey paling ogah kena lem. Menggunting, it’s okay, giliran mau ditempel, “Bu Elniiii … “. Maka telunjuk Bu Erni lah yang jadi korban lem, Rey hanya tinggal menempelkan ke atas kertas.
Lain waktu, kegiatannya adalah membuat cap telapak tangan, menggunakan cat air yang bisa hilang bila dicuci dengan sabun. Cat yang berwarna merah, kuning, hijau dkk … tidak membuat Rey tergiur. Kedua tangan disembunyikan di balik badan, tidak mau membuat cap tangan. Alasannya : “Nanti tangan aku kotor !!!”
Para Ibus dari teman-teman Rey di PG langsung komentar : “Wah … ini mah, Mamahnya pasti apik teuing (terlalu apik – bs sunda –red) di rumah.”
Waktu tahun lalu, maen ke pantai (baik di Pangandaran maupun ancol), Reyhan nggak mau nginjak pasir pantai, dengan alasan : “Kaki aku kotor. Kaki aku kotor”
Sejak saat itu, Mamah baru tersadar, OverProtektif itu tidak perlu. Protektif tetap perlu.
Jadi … Mamah mulai kurangi (nggak tahu tuh klo si Papah), dan mulai bujuk-bujuk Rey.
“Nggak apa-apa sayang, tangannya kena lem. Kan nanti cuci tangan kalau mau makan”
“Tangan Reyhan kecoret spidol?? Nggak apa-apa. Menggambar dulu aja sampai selesai. Nanti kalau sudah selesai, baru cuci tangan yaaa … “

TAPIII …

Laporan dari TK, di hari kedua-nya masuk sekolah kemaren, Rey TIDAK MAU main plastisin. Takut tangannya kotor.

WUUIIIHHH …. Masih perlu berkampanye lagi niihhh

“Rey, Kotor itu baik … nak, asal sesudahnya cuci tangan “
posted by Amalia @ 8:19 AM   4 comments

Daisypath Ticker

Wednesday, July 19, 2006
Dejavu
 
Kejadian pertama terjadi pada saat pengambilan raport Naila di SD. Bina Talenta, Sabtu tanggal 1 Juli 2006.
Pertama-tama ibu Heni, - wali kelas Naila-, menerangkan panjang lebar bagaimana perkembangan akademis, sosial, emosi & motorik Naila selama di Kelas 2, kemudian ....
Bu Heni : "Ibu, Akhir-akhir ini Naila itu kalau membawa bekal roti atau kue, selalu memberi saya 1 potong roti atau kue-nya. Apabila saya menolak, naila selalu memaksa dengan mengatakan bahwa Ibu sudah tahu, kalau Naila akan membagi roti/kue-nya kepada saya"

Mamah: "Oooh . . . tidak apa-apa bu, memang setiap pagi, apabila saya sedang menyiapkan bekalnya ke sekolah, Naila selalu berpesan harus membawa lebih, karena yang satu potong akan dikasihkan kepada Bu Heni."

Bu Heni: "Ooo ... begitu. Saya sebetulnya tidak enak. Tapi Naila-nya memaksa. Hanya Naila saja yang selalu membagi bekalnya kepada saya ... "

Mamah: "Sudah bawaannya Naila, senang memberi. Waktu di kelas 1, Naila pernah membagi-bagikan pensilnya, dengan alasan, kalau Mamah-ku di rumah masih punya banyak. Di rumah pun begitu, kadang barang-barang yang saya rasa, masih bisa digunakan Naila, sudah Naila berikan kepada teman-temannya. "
Bu Heni dan Mamah sama-sama tersenyum maklum .. .

--- " ---


Sepulang dari Bina Talenta, Mamah langsung ke PG Pertiwi, karena jadwal pembagian raportnya bersamaan.

Pertama-tama ibu Erni, - Wali kelas Reyhan-, menerangkan panjang lebar bagaimana perkembangan Reyhan selama satu tahun berada di bawah bimbingan bu Erni, kemudian ....

Ibu Erni : "Ibu, Akhir-akhir ini Reyhan itu kalau membawa bekal roti, selalu memberi saya 1 potong roti. Apabila saya menolak, Reyhan selalu memaksa. Aku punya 2 roti, satu untuk aku, satu lagi buat bu Erni, begitu bu kata Reyhan kepada saya. Roti itu pun harus saya makan di hadapan Reyhan, bersamaan dengan Reyhan memakan rotinya. "

Mamah(tersenyum): "Oooh . . . tidak apa-apa bu. Percaya atau tidak, baru saja Wali Kelas kakaknya Reyhan – Naila, memberitahukan juga bahwa Naila juga suka ’maksa’ memberikan sebagian bekalnya roti/kue kepada ibu Gurunya. "

Bu Erni: "Ooo ... begitu. Mungkin sudah keturunan ya bu "(Bu Erni tertawa). Saya sebetulnya tidak enak. Tapi Reyhan-nya maksa. Hanya Reyhan saja yang selalu membagi bekalnya kepada saya. Yang saya salut pada Reyhan itu, Reyhan sendiri tidak pernah tertarik / kabitaan (b. Sunda) pada bekal anak yang lain, tapi kalau yang lain minta bekalnya, - Reyhan kan kalau bawa susu ultra suka bawa 3 ya bu -, yang 2 dia minum, yang 1 selalu dia berikan kepada siapa saja temannya yang minta ...

Itu Naila dan Reyhan.

Apakah Zahra pun nanti akan selalu ’memaksa’ untu membagikan bekalnya pada Gurunya ???

Dejavu

posted by Amalia @ 7:56 AM   4 comments

Daisypath Ticker

Tuesday, July 18, 2006
Pangandaran (bag-2)
 
Sedianya Title ini akan di-isi dengan lanjutan cerita hari-hari liburan kami di Pangandaran (Draft cerita sudah jadi, tinggal dipublish), tapi siapa sangka, Senin 17 Juli 2006, kemaren terjadi bencana Tsunami di "Primadona Wisata Jawa Barat" ini. Hilanglah sudah semangat untuk bercerita tentang kenangan ceria kami di Pantai Pangandaran. Biarlah kenangan itu tetap ada di hati kami sekeluarga.

Jadi, Title ini saya dedikasikan kepada seluruh korban Bencana Tsunami Pangandaran. Semoga mereka yang meninggal, mendapat tempat di-sisi-NYA. Semoga mereka yang kehilangan harta benda, tidak kehilangan harapan dan semangat serta ketakwaan kepada-NYA. Karena segala sesuatunya adalah milik-NYA, kekuasaan-NYA dan kehendak-NYA.

Innalilaahi Wa Inna Ilaihi Ra'jiun


Es war einmal ...

posted by Amalia @ 12:19 PM   2 comments

Daisypath Ticker

Friday, July 14, 2006
Sunset di Pangandaran, Kamis 6 Juli 2006
 

Pangandaran di sore hari, Allahu Akbar ... indahnya ciptaan-Mu ini
posted by Amalia @ 3:12 PM   3 comments

Daisypath Ticker

Pangandaran (bag-1)
 
Libur tlah tiba ... Tentu saja libur yang dimaksud adalah libur anak sekolah. Dan Naila sudah termasuk di dalamnya. Klo Papah & Mamah, tentu saja tidak punya libur. Kami harus minta ijin pada atasan masing-masing untuk bisa libur.(Aaahhh... kapan kami bisa jadi atasan bagi kami sendiri).

Tapiii ... tentu saja kesempatan ini tidak kami lewatkan. Melepas rutinitas sehari-hari dan kejenuhan, maka kami pilih waktu dan tempat untuk liburan yang cocok dengan waktu dan kantong Papah & Mamah.

Setelah ditimbang-timbang, pilihan jatuh ke Pantai Pangandaran. Waktunya? Dari hari kamis, 6 Juli sampai Sabtu 8 Juli. "Sebentar amat !!" itu komentar Naila yang pertama. Sekali lagi, Papah & Mamah minta Naila buat mengerti, bahwa saat ini itulah yang bisa kami berikan padanya, dan untungnya gadis kecil ini mau memaklumi.

Jadilah, rabu malam, Mamah punya kesibukan ngepak. Pekerjaan satu ini (dari dulu) jelas sudah bukan keahlian Mamah. Sampai jam 11 malam, Mamah masih milah-milih pakaian untuk Papah, Mamah, Naila, Rey & Zahra. Ngepak buat 3 hari 2 malam aja, syuusyaaahnya minta ampun. Hampir seisi lemari dikeluarin semua. Sampai diejekin Papah. Versi unstable-nya: Pakaian nggak muat ke dalam koper dan hand bag. TERLALU BANYAK. Setelah disortir lagi, (dibawa seperlunya), Akhirnya muat juga, dalam 1 koper dan 1 hand bag (Tapi di akhir cerita, terbukti juga bahwa Mamah KEBANYAKAN bawa baju, karena baju bersih yang dibawa balik ke Bandung di hari Sabtu itu muat dalam 1 Koper). :-(

Karena pengen berangkat nyantai, kami berangkat dari Bandung pukul 09.45 (Maksudnya santai adalah, nggak terburu-buru harus bangun pagi, sarapan dll). O iya, Supaya rame, kami mengajak Nenek (Ibunya Papah), Aa Dika & de Alif (Sepupu2nya Naila, Rey & Zahra) ikut ke Pangandaran. Pengennya sih ngajak yang lain juga, tapiii apa daya nggak muat ... di mobilnya.

Akhirnya Formasi di Kijang hitam kami (bukan Kambing hitam lhooo), Papah sebagai pengemudi ditemani Naila duduk di samping. Naila duduk di depan, soale... kadang2 masih suka mabuk darat. Mamah dan Zahra juga Rey, duduk di baris tengah, Sementara Nenek, Aa Dika dan de Alif berbagi kursi bagian belakang. Kijang Memang Tiada Duanya ... Muat semua termasuk koper dan hand bag hasil perjuangan Mamah semalam.

Jarak Bandung-Pangandaran yang cukup jauh (sekitar 211 km) kami tempuh dengan kecepatan biasa saja. Maklum, tidak ada jalan tol, jadi si Papah nggak bisa pura-pura jadi Schumi, walaupun kadang2 di trek tertentu suka juga sulap-salip mobil lain. Anak2 bergantian, tertidur dan terbangun.
Kami berhenti untuk makan siang di RM Gentong, Ciawi. Kami berhenti untuk makan siang, di RM Gentong, Ciawi, Tasikmalaya. RM khas Sunda, dengan bangunan ala ‘Saung’, cuman Saung yang ini letaknya tepat di pinggir jalan.

Setelah perut terisi dengan gurame goreng, sayur asem, nasi tutug oncom + ikan peda … Nikmat sekaliiii … perjalanan dilanjutkan. Akhirnya kami sampai di Pantai Pangandaran pukul 15.30. Kami langsung menuju Hotel Fortuna, di jalan Kalen Buaya, Pantai Barat Pangandaran. Mamah sengaja pilih hotel ini, karena letaknya yang tidak jauh dari Pantai Barat. Jadi klo mau ke Pantai, kami cukup berjalan kaki sajah. Apalagi di Hotel ini juga ada kolam renangnya. Klo bawa anak-anak rekreasi, kolam renang seakan sudah jadi fasilitas wajib. Kami booking 2 kamar executive yang masing-masing dilengkapi dengan 2 buah tempat tidur Queen size dan kamar mandi, tv dan ac (di pinggir pantai kan hawanya panas toh???). Kamar yang kami booking letaknya bersebelahan, nomor 101 & 102, dan letaknya tepat di depan kolam renang. Asyiiknya lagi, ke-2 kamar ini punya pintu penghubung.

Anak-anak sudah tidak sabar, untuk langsung main ke pantai. Jadi setelah check in dan nyimpan barang-barang di kamar, kami langsung pergi ke pantai. Heran juga, padahal kan sedang libur sekolah. Expektasi Mamah tadinya hotel bakal full booked dan pantai bakalan penuh. Ternyata masih banyak kamar kosong di hotel dan Pantai nya lengang. Mungkin karena kami datang di hari kamis.

Bermain pasir, berkejaran di ombak, Naila, Aa Dika dan de Alif, enjoy sekali. Sementara Rey masih takut-takut dengan ombak. Mamah dan Nenek saling bergantian menggendong Zahra. Mamah masih belum pede, ngajak Zahra main di laut ataupun berenang. Padahal Zahra kan sudah 7 bulan, mestinya sudah bisa yaa… Keasyikan bermain di pantai, sampai2 kami tidak sadar, kalau matahari sudah menghilang di garis cakrawala. Ombak sore pun makin besar. Klo tidak di-iming-imingi bahwa besok pagi masih bisa bermain ke pantai lagi, Naila hampir tidak mau diajak kembali ke hotel.

Sesampainya di hotel, anak-anak masih belum puas main air. Kali ini mereka nyemplung ke kolam renang hotel. Klo di Bandung, mana mungkin Mamah kasih ijin di atas jam 6 sore masih berenang di kolam air dingin, Tapiii … ini kan liburan. Aturan2 kita tinggalkan saja di rumah yaaa … Jadinya sampai jam 7 malam, anak-anak masih kecipak-kecipuk di kolam renang. Demi praktisnya, Mamah langsung aja pesan makanan buat makan malam di hotel, Tapiii … “Maaf, Bu Restoran Hotel sudah tutup. Kokinya sudah pulang”. Alamaaak . . . mentang-mentang, tamunya masih sedikit, jadi jam 7 malam, Restoran Hotel sudah tutup. Akhirnya, selama anak-anak mandi, Papah jadi sukarelawan pergi putar-putar cari makanan.

Untung saja papa berhasil pulang dengan membawa 6 nasi putih bungkus + ikan kerapu bakar + cumi goreng tepung + udang goreng tepung. Kami semua yang sudah kelaparan, langsung melakukan aksi “SERBU”. Sampai Naila dan Rey, yang biasanya makannya syuusyah, kali ini minta “Nambah”. Anak-anak kelaparaaaa … n. Hampir saja Papah & Mamah nggak kebagian. Papah menghibur diri: “Nggak apa-apa, Papah lagi diet. Makannya cukup sedikit aja”. Tapiii besok di rumah makan, ‘balas dendam’ ya Paaa … ;-)

Badan lelah, perut kenyang, hati riang, malam itu kami semua tidur nyenyak. Bahkan Zahra yang biasanya di Bandung, bangun malam sampai 3x, Malam itu hanya bangun 1x. “Capeeek ya ‘Nak, sssttt … jangan besuara terlalu keras. Papah dan Rey yang tidur di kasur sebelah, nanti terbangun”.

Naila tidur dengan Nenek di kamar sebelah. Sementara Aa Dika dan de Alif, berbagi kasur di sebelah mereka. Selamat Malam, Selamat Tidur semuanyaaaa . . .

(bersambung)
posted by Amalia @ 1:28 PM   3 comments

Daisypath Ticker

Monday, July 10, 2006
Terlambat lagi ...
 
Hari ini Mamah terlambat (lagi!) ke kantor. Syndrom hari Senin?, entahlah ... tapi memang hari senin merupakan hari rawan buat Mamah. Maksudnya, bila dilihat dari rekord keterlambatan, maka kejadiannya sering terjadi pada hari Senin. (I don't like Monday ???)

Tapiii... seperti biasa, Mamah selalu punya Excuse (Excuse me, Excuse me ...). Bukan ... Bukan ... gara-gara begadang nonton final Perancis-Italia. Mamah sudah nggak punya tenaga buat begadang malam, hanya untuk nonton 'begituan' (apaan seeh, pake tanda kutip segala ... halal lageee nonton Final Piala Dunia yang hanya datang 4 tahun sekaleee). Tapi karena bukan jerman yang maen, yaaa ... mamah nggak belain nonton. Cukup tahu lah hasilnya kalau Italia yang juara lewat penalti, dan zizou kena kartu merah.
Jadi, kalau bukan gara-gara terlambat bangun, kenapa Mamah kesiangan lagi pagi ini? Apalagi Naila masih libur sekolah, jadi Mamah kan libur juga 'ngejar-ngejar' Naila untuk cepat-cepat ke sekolah.
Sebetulnya tadi pagi Mamah termasuk 'on time'. Bangun jam 4 shubuh, untuk mengantarkan Papah sampai pintu pagar, karena Papah kan tiap senin pergi kerja ke Jakarta. Kemudian beres-beres, sholat shubuh, mandi dll, menyambut Naila dan Reyhan bangun pagi, beres-beres lagi, menyambut Zahra bangun pagi daaan ... tepat jam 06.50. Mamah sudah ready to go to work. Daan seperti biasa Mamah pamit dulu pada anak-anak.
Mamah: "Nai, Mamah pergi kerja dulu yaaa ..."
Naila: "Iya Mah" (asyik dengan kertas dan pensilnya. Pagi2 giniii, belom mandi dan sarapan, Naila sudah mulai menggambar. Jadi keingetan, pengen daftarin Naila untuk les gambar/lukis. Ada yang punya referensi di kota Bandung, tepatnya Bandung-Selatan, dimana yaa ada tempat untuk les gambar/lukis?).
Mamah: "Rey, Mamah pergi ke kantor dulu yaa..." (Tas sudah disampir di bahu, kunci mobil sudah di tangan).
Reyhan: "Aku mau makan sekarang."
Mamah: "Boleh, Reyhan sarapan mie goreng yaa. Tuh sudah disiapkan. Nanti siang makan pake pepes ikan dan jangan lupa harus makan sayur" (Langsung deh kasih banyak tugas, kebiasaaaaaan jadi Jendral!!)
Reyhan: "Tapi aku mau makannya disuapin Mamah"
Mamah: "Lhoo, ... biasanya juga Reyhan makan pagi kan disuapin bi Isah. Mamah harus ke kantor dulu. Nanti terlambat" (sambil lirik jam tangan. Jam 06.55).
Reyhan: "NGGAK MAU!!!. Aku mau disuapin Mamah aja"
Mamah: "Reyhan kan sudah pinter, biasanya juga kalau makan mie, nggak disuapin juga bisa. Makan sendiri aja yaa" (Mode: merayuandmembujuk)
Reyhan: "HWAAAA...AAAH NGGAK MAU, AKU MAU DISUAPIN MAMAH". (Sekarang sudah lari ke arah Mamah, dan meluk kaki Mamah)
Mamah: "Masa ada Power Ranger nangis. Power Ranger kan jagoan, makanya makannya juga harus jagoan"
Reyhan: "HWAAAA...AAH" (Jam 07.05)
Sudah dibujuk-bujuk, Reyhan tetap tidak mau. Jam 07.15 akhirnya Mamah nyerah. Jam segitu masih dirumah, so pasti telat ke kantor. Nggak mungkin lah lalu lintas hari Senin dibabat 15 menit. Terlambat 07.31 dan 08.00 sama-sama TERLAMBAT. akhirnya...
Mamah: "Ya sudah, Mamah suapin, tapi kalau Reyhan sudah makan Mamah boleh ke kantor yaa?"
Reyhan: "Iii..yaaa" (sambil menghapus airmatanya dan tersenyum lagi)
Nggak sampai 15 menit, mi gorengnya habis dimakan.
Mamah: "Nah, Reyhan sudah selesai makannya, sekarang Mamah boleh ke kantor?"
Reyhan: "Boleh. Tapiii... di kantornya tidak boleh betengkar dengan teman-teman yaa"
Mamah (sambil tersenyum): "Iya, tapiii kalau nanti ada yang dorong Mamah?"
Reyhan: "Mamah dorong lagi aja temannya, tapi tidak boleh betengkar. kalau betengkar, Mamah di rumah saja" (sambil mengerutkan keningnya).
Mamah (tersenyum): "Mamah berangkat yaa.... Assalammualaikum"
Reyhan: "Wa alaikum salam"
Sewaktu Mamah sedang mengeluarkan mobil dari garasi (pukul 07.40), Reyhan melambaikan tangan dari teras sambil sekali lagi berteriak: "Mamah ... hati-hati yaaa"
Ah... kalau sudah begitu, apa lah arti konduite di kantor.
posted by Amalia @ 9:12 AM   3 comments

Daisypath Ticker

Tuesday, July 04, 2006
Zahra in Action
 

Setelah Naila dan Reyhan in Action, sekarang giliran si mungil in Action
Di usianya yang 6 bulan, Zahra makin lincah. Jangan ditanya soal kemampuannya berceloteh dan tertawa. Zahra sudah bisa tertawa cekikikan sejak usianya 4 bulan. Zahra pun sering berceloteh dengan bahasa planetnya sejak usia 4 bulan, dan sekarang ’pronunciation’ juga makin mantap, sehingga kadang2 tertangkap kata-kata yang diartikan oleh Mamah dan Kakak Naila seperti : “Tziidaaak (Tidak?)” atau “Paap paap (Papa?)”...

Zahra juga sudah hapal sama orang. Beda dengan kakak-kakaknya, di usia 6 bulan, Zahra tidak pernah mau digendong sama orang yang tidak dikenalnya dengan baik. Apabila kami pergi ke tempat umum, dan dia disapa (lebih tepatnya pipi chubby-nya ditoel orang), dia masih cukup toleran untuk tersenyum. Tapi kalau sudah digendong, .... Wuuuaaaah.... langsung nangis.

Kemarin siang pun begitu. Jam istirahat, mamah sempatkan dulu untuk pulang ke rumah. (Lakon ini sudah mamah jalankan 3 bulan, Alhamdulilah Bos di kantor mendukung, Niat mamah untuk kasih ASI Eksklusif 6 bulan pada Zahra berhasil dengan SUKSES. Setiap jam istirahat mamah selalu lari (tepatnya ngebut, membelah jalan) menuju rumah, untuk setor ASI secara langsung pada Zahra.
Sesampainya di rumah, ternyata Zahra sedang siap-siap untuk disuapi makan siang oleh bi Ade (Ini sih asistennya Nenek, yang dipinjam Mamah setiap hari untuk jagain adik Zahra. Nuhun yaa Nek, Mamah masih defisit asisten nih satu lagi. Zaman gini susah cari Asisten yang bisa dipercayaaa...).

Karena Zahra sekarang sudah 6 bulan jadi sudah makan bubur susu 2x sehari dan 1x makan buah (pisang atau jeruk). Melihat Zahra sedang siap2 makan, akhirnya Mamah hanya menyapa, dan kemudian terus mengajak kakak Naila untuk makan siang bersama (Soale perut mamah juga sudah keroncongan, kan paginya nggak sempat sarapan tea). Tapiiii....Wuuuaaaah....... lho Zahra kok nangis, makin lama makin keras. Yang biasanya pinter makannya disuapin bi Ade, kali ini nangis sejadi-jadinya. Bi Ade sampai kewalahan.

Bi Ade: “Oh.... de Zahra ngantuk yaa... Hayu atuh dieyong dulu”.

Sudah dieyong, ditimang-timang bi Ade, Zahra masih nangis kejer. Akhirnya ...

Mamah: “Zahra mau bobok yaa, Hayu atuh nyusu aja dulu. Biar nanti kalau bobo perutnya kenyang”.

Hep... Zahra langsung nyungsep di dada Mamah (Mudah2an nggak terkena RUU APP niiih). Kirain kalau kenyang bakalan tidur, kan ngantuk, Tapiii.. kok nyusunya sambil senyam-senyum begitu,.. ngajakin mamah bicara dan main lagi. Sehabis kenyang nyusu pun, hi...hi...hi.. ngajak mamah bicara ....

Ooo ... jadi tadi teh nangis kejer, gara-gara Mamah datang nggak langsung gendong Zahra seperti biasa.... Pintaaar :-D

Untuk kemampuan motoriknya, sekarang Zahra sedang mengembangkan kemampuan untuk merangkak dan bangkit duduk dari posisi berbaring. Karena sekarang Kakak Naila sudah libur sekolah, jadi Konsentrasi Mamah malam hari sehabis maghrib adalah bermain sambil belajar dengan Zahra.

Waktu: Senin, 3 Juli 2006 Pukul: 18.30 WIB
Lokasi: Box Bayi Zahra, Kamar Tidur Utama, Our House – Bandung

Untuk merangsang kemampuan merangkaknya, Mamah selalu memancing dengan mainan yang diletakkan jauuuh ... di depan jangkauan tangannya, dan dengan penuh konsentrasi dan penuh tenaga, Zahra akan berusaha mencapainya dengan cara merangkak. Jika sudah terjangkau, lagi Mamah ambil mainannya dan diletakkan kembali di tempat lain, sehingga (lagi) Zahra akan berusaha mengambilnya. Biasanya setelah 5-6 kali metoda ini diulang, Zahra akan mulai ngambek, karena setiap kali berhasil, mainannya dipindahkan lagi oleh Mamah. Jika sudah begitu, maka Zahra akan digendong dulu dan diajak bicara lewat kaca cermin. Paling hobi deh, Zahra klo digendong dan lihat bayangannya di cermin. Klo digendong menghadap depan, kakinya pasti sibuk sendiri... Nah, klo Zahra sudah hepi lagi, Latihan berikutnya adalah di box bayi. Mainannya akan digantungkan, dan Zahra dari posisi berbaring, akan berusaha memanjangkan tangannya untuk menjangkau mainannya... Daaan Alhamdulilah, kemaren malam Zahra berhasil bangun sendiri dari posisi berbaringnya dan duduk, tanpa ditarik/dibantu oleh Mamah. Pintaaar...

Sebentar lagi Zahra akan bisa duduk sendiri tanpa ditopang ... Tak terasa, waktu memang begitu cepat berlalu . . .
posted by Amalia @ 3:28 PM   3 comments

Daisypath Ticker

Naila in Action
 
Waktu: Sabtu, 1 Juli 2006
Lokasi: SD-Bina Talenta, Bandung

Hari itu ”Samen” di Bina-Talenta. Samen adalah kata bahasa Sunda yang artinya Kenaikan Kelas. Seperti biasa, apabila ada ‘hari-hari besar’ di kalender Pendidikan, Bina Talenta mengadakan panggung / pentas seni, dimana anak-anak bisa tampil di depan para orang tua. Tema yang diambil untuk hari itu adalah budaya Sunda, sehingga para gadis cilik tampil ala “Nyi Iteung” sementara jajaka-nya berpakaian ala ‘Kabayan”.

Acaranya sendiri di-isi dengan tari-tarian (sunda tentu, seperti sisingaan, keprak-kepruk dll), puisi (B. Sunda, B Indonesia & B. Inggris), pidato (B. Inggris) dan paduan suara (Lagu2 berbahasa Sunda, Indonesia & Inggris).

Kali ini Naila kebagian untuk membacakan 2 buah puisi berbahasa Inggris berjudul “What are little girls made of, what are little boys made of” dan "If school were more like baseball"
(Sebelum berangkat, sambil mendandani, Mamah sempat menggoda Naila: "Biasanya Nyi Iteung mah bicaranya teh Basa Sunda, kenapa ini mah Nyi Iteung teh malah baca puisi bahasa Inggris?". :-)
Si Mamah ... Nyi Iteung abad sekarang mah punya banyak kesempatan, semua jalan terbuka lebar ... Kudu, Harus, sagala bisa. Bener kitu??? satujuuuuu ???)
What are little Girls Made off? What are little Boys Made off?

What are little Girls Made off?
What are little Girls Made off?
Sugar and Spice, and everything nice
That’s what little Girls made off.

What are little Boys Made off?
What are little Boys Made off?
Snips and snails and puppy dog tails
That’s what little boys made off

If school were more like baseball

If school were more like baseball
We’d only have to play
We’d hang out in the sunshine
And run around all day
We wouldn’t have to study
We’d practice and we’d train
And, best of all, they’d cancel
Whenever there was rain
Berbeda dengan sang Adik – Reyhan – yang kamis kemaren, mengalami demam panggung, Naila tampil dengan penuh percaya diri dan ekspresif di atas panggung. Sejak usia batita, maupun balita, Naila tidak pernah kesulitan untuk tampil. Sepertinya Naila selalu enjoy, menikmati sekali perhatian orang-orang yang ditujukan kepada dirinya. Naila hampir tidak pernah mati gaya di depan orang. Sangat komunikatif bila diajak bicara biarpun oleh orang-orang yang baru dikenalnya. Sungguh perbedaan yang sangat jauh dengan sang Adik-Reyhan, bagaikan bumi dan langit.

Alhamdulilah, cita-cita Naila juga kesampaian. Berkat kerja kerasnya, Naila berhasil menjadi rangking 1 (seperti Sabina & Thariq, karena jumlah mereka sama). Sesaat sebelum diumumkan oleh Bu Heni, Mamah sempat mencandai Naila.

Mamah: “Kak, Mamah perlu ngeluarin camcoder lagi nggak? Camcodernya sudah mamah simpan lagi ke dalam tas. Yang dipanggil sama bu Heni, kan hanya yang rangking 1 dari tiap kelas”.
(Semester ke-1 kemaren, dan hasil UTS ke-II, Naila menempati posisi ke-3 sesudah Sabina dan Thariq, begitu pun sewaktu di kelas 1)
Naila: “Aduuuh...” (seraya menutup mata sambil tersenyum).
Bu Heni: “Dari kelas 2-A, sangat ketat sekali. Karena jumlahnya sama persis, maka kami punya 3 orang yang sama-sama menduduki peringkat 1 yaitu Sabina, Naila & Thariq dengan total jumlah 216 yang merupakan jumlah tertinggi untuk seluruh angkatan kelas 2”
Naila : “Horeee . . .Alhamdulilah” (sambil berlari naik ke atas panggung)
Mamah yang tak menyangka, cepat-cepat mengeluarkan camcoder – tak mau ketinggalan momen tersebut dan biar papah bisa menyaksikan rekamannya nanti ... Dan diatas panggung, berdiri diantara Sabina dan Thariq, Gadis Kecilku menebar senyum pada semua orang ... Sorot matanya itu, aaahhh... tak bisa digambarkan dengan kata-kata ...

Naila, Selamat ya Sayang, Hasil Kerja Keras mu berbuah Hasil. Semoga Cita-Cita yang kau gantungkan di langit yang paling tinggi, bisa tercapai dengan tetesan keringat dan upayamu sendiri. Mamah dan Papah akan senantiasa membantumu dengan doa.

I love you ...Naila.

ps. : foto-fotonya menyusul yaa... belum sempat didonlot dari camera ;-)

posted by Amalia @ 3:19 PM   5 comments

Daisypath Ticker

Monday, July 03, 2006
Reyhan in Action
 
Tanggal : Kamis, 29 Juni 2006
Lokasi : TK Pertiwi, Buah Batu Bandung
Hari itu TK Pertiwi mengadakan Pentas Seni dalam menutup tahun ajaran 2005/2006. Sudah sejak 2 minggu yang lalu, Kelas Kutilang (Kelas Playgroup), kelas Reyhan mengadakan latihan rutin, sebagai persiapan mereka untuk 'tampil' di atas panggung. Setiap senin-rabu dan sabtu, Rey selalu pulang ke rumah dalam mode:nyanyi. Entah itu lagu "Disini senang disana senang" atau "cuci tangan sebelum makan", "Kalau kau senang hati ... " dan "Du bi du bi dam", lengkap dengan gaya goyang pinggul dan lambaian tangan.
Jadi... tentu saja, Mamah tidak mau melewatkan kesempatan ini, melihat Reyhan in Action di atas panggung. Rabu sore, Mamah extra minta ijin bahwa hari kamisnya, Mamah baru akan masuk kantor siang, karena mau ngantar Reyhan dulu ke sekolah.
Jadi kamis pagi itu, Reyhan siap dengan 'seragam'-nya. Kaos oranye bertuliskan nama Reyhan dan nama teman-temannya di kelas kutilang, dipadukan dengan celana jeans berwarna biru. Mamah tidak mau ketinggalan, menyiapkan amunisi: camcoder dan digital camera untuk mengabadikan momen bersejarah ini.
Kali pertama Reyhan menyanyi di muka umum, di atas panggung pula. Wah harus bikin rekaman yang bagus, biar papah yang tidak ikut ngantar, bisa menyaksikan 'kebolehan' Reyhan.
Kami tiba di sekolah pukul 08.50. Sekolah sudah ramai, anak-anak berdandan cantik dan gagah karena masing-masing akan tampil di atas panggung. Warna-warni kostum mereka sangat meriah. Reyhan turut larut dengan teman-temannya, walaupun 'sindrom diantar Mamah' tetap keluar. (Biasanya Reyhan diantar bibi Isah - asisten Mamah yang sudah ikut dengan keluarga kami sejak 7 tahun yl. Kalau diantar bi Isah, Reyhan suka 'pintar', jarang rewel, mau gabung dengan teman2nya. Tapi klo yang ngantar Mamah, jadi nggak mau ikut dalam kegiatan, maunya nempel terus sama Mamah - persis kayak perangko..).
Anak-anak dari Playgroup mendapat urutan pertama tampil di atas panggung (mungkin karena dari segi usia mereka masih muda, rata2 usianya berkisar 3-4 tahun), Jadi setelah pembukaan dan pembacaan doa, Reyhan dkk diminta bersiap di pinggir panggung, sementara Mamah dan ibus lainnya cepat2 mengambil posisi di bawah panggung, paling depan. Masing2 siap dengan senjatanya. Camcoder is on, Camera is ready ... and ACTION !!!
Ke-1o balita itu pun naik ke atas panggung. Empat orang gadis cilik menurut dengan patuh dibariskan di bagian depan oleh bu guru, ibu Erni. Sementara 6 orang jagoan cilik diminta berdiri di lapis kedua termasuk Reyhan yang kebagian berdiri di sebelah kanan. Sementara Fajri , terlihat menangis karena tidak mau lepas dari sang Bunda ... Sayang, Fajri urung naik panggung.
Musik mulai mengalun ... Oo rupanya lagu 'Du bi du bi dam'. Ke-4 penari cilik di depan mulai bergoyang, mengangkat tangan, menggoyangkan badan dengan wajah penuh senyuman, cantik-cantik.... Tapi.... Lho di baris ke-2 kenapa tidak ada tanda-tanda kehidupan ???
Ha.. Ha.. Ha.. ke-6 jagoan di belakang berdiri diam seperti patung. Tak ada pergerakan sama sekali. Satu-satunya tanda kehidupan hanya di bagian wajah. Ada yang tersenyam-senyum seperti Faza, Ada yang salah tingkah seperti Arya, tapi ... ada yang menekuk wajah seperti ... Reyhan !!!
Para Ibus di bawah termasuk bu Erni di atas panggung, berusaha membangkitkan semangat para jagoan ...
Mamah: "Ayo Rey, ini mamah rekam... du bi du bi dam.. dam ... du bi du bi dammm"
Bu Erni : "Faza, Rafi, Reyhan ... ayo diangkat tangannya dan berputar ... "
Tapiii, Rey makin mengkerut seraya menggelengkan kepalanya. Sementara gadis-gadis cilik di depannya mulai berputar ke kiri dan ke kanan persiiis seperti ratu sejagad.
Oh My God ... Sampai habis lagunya, ke-6 jagoan itu akhirnya hanya berdiri di belakang para "Putri Panggung"
Ha...ha.. ha...

posted by Amalia @ 8:51 AM   2 comments

Daisypath Ticker

   
 

Our Birthday :
 
Lilypie 6th to 18th Ticker
 
Lilypie 5th Birthday Ticker
 
Lilypie 2nd Birthday Ticker
About Me

Amalia
Bandung, Indonesia
a Wife, Mother of 3 children, an Employee


See my complete profile
Previous Post
Archives
Shoutbox


Free shoutbox @ ShoutMix

My Family
Coretan Naila
Links
Powered by

Free Blogger Templates

BLOGGER
Free Shoutbox Technology Pioneer

since 06/10/06
Counter
Counter